Thursday, 6 April 2017

Aku mendapatkan Hidayahku di Negara Minoritas

Hijrah. Pasti banyak teman-teman yang sudah mendengar kata ini yah. Ya hijrah berarti (perpindahan/migrasi). Dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan diri dan berpindah tempat. Merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw sebagian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan. Tulisan kali ini aku tertarik menulis mengenai “hijrah”, kenapa? Karena, aku saat ini aku merasakan hatiku menggebu-gebu ingin sekali rasanya berhijrah secara total untuk menjadi islam yang kaffah. Siapalah aku ini, seorang suci (gadis) yang hanya ingin belajar menjadi muslimah yang lebih baik lagi yang ingin berkumpul kembali dengan teman, sahabat dan keluarga tercintanya di surga Allah nantinya.

Hijrah itu mudah yang sulit ISTIQOMAH nya
I strongly agree!! Kenapa? Ya karena uda beberapa kali rasanya aku memutuskan untuk ber’hijrah’ tapi masih menaruh hati pada lawan jenis/berpacaran saat itu, masih pake celana jeans yang ketat yang menunjukkan bentuk tubuh, masih mengenakan jilbab yang dililit di leher, masih colak-colek salaman pegangan sm lawan jenis, dan masih masih yang lainnya. Istiqomah dalam berhijrah itu tidaklah mudah, ditambah lagi tidak ada teman hijrah yang juga mengingatkan dan menguatkan. Aku sendiri sampai saat ini masih terus menguatkan hati dan menguatkan diri agar Allah selalu memberiku hidayah dan petunjuk setiap harinya agar hati ini tidak menjadi beku terhadap apa yang menjadi larangannya. Masalah teman hijrah, saat ini aku sedang berada jauh dari  lingkungan mayoritas muslimku jadi harapanku satu-satunya adalah Allah SWT. Kalau mau dipikir lagi, aku bisa saja mengambil langkah lain dalam hidupku ini. Negara tempat tinggalku sekarang muslim menjadi minoritas, tidak ada teman dan keluarga yang mengawasi langkahku tapi aku bersyukur karna Allah justru memberiku hidayah yang lebih saat aku malah berada di Negara minoritas. Sekarang waktunya aku mulai menata langkahku untuk menjadi muslimah yang sebenernya. Sebenarnya? Yah. Muslimah yang sebagaimana seharusnya. Yang menjaga auratnya, menjaga pandangannya, menjaga lisannya, dan juga menjaga hatinya. Aah rasanya kembali meningat dosa-dosa masa lalu yang telah ku lakukan begitu menyedihkan. Untuk hal ini, andai saja waktu dapat diputar T_T tapi, yasudahlah sekarang waktunya melangkah bukan lagi hanya berdiam diri dengan menyesalinya. Menyesali dan melangkahlah ci….
Yang menjadi sesalku adalah mengapa dulu saat aku sudah menyadari bahwa ‘pacaran’ itu dosa, jelas-jelas Allah SWT melarangnya tapi mengapa aku masih saja melakukannya? Jawabku saat itu karena sudah terlanjur, toh aku juga tidak melakukan yang dilarang oleh agama. Apanya yang tidak melakukan, aku membagi hatiku kepada lelaku yang bukan muhrimku, berpandangan, berpanggilan mesra, bergandeng tangan, menyedihkan T_T. ibarat basah tersiram air, baru sedikit seharusnya aku bisa berhenti agar tidak lebih basah justru yang aku lakukan malah meloncat kedalam air yang lebih banyak. Andai saja saat itu aku berpikir dengan perumpamaan itu sebuah api, pastilah aku tidak ingin gemercik api kecil itu menjadi semakin besar, pastilah aku meninggalkan api kecil itu. Aah andai saja. Saat ini yang dapat ku lakukan hanyalah meminta ampun atas dosa yang telah aku lakukan. Rasanya ingin sekali membuat orang-orang di sekitarku untuk tidak merasakan apa yang aku rasakan, ingin sekali rasanya membuat mereka menyadari bahwa ‘rasanya menyesal seperti yang aku rasakan itu sangatlah menyedihkan’. Saat ada di titik ini rasanya apa yang dulu kita lakukan andai saja menyadarinya lebih cepat, andai saja tidak melakukannya, padahal saat itu Allah sudah memberi kita hidayah dengan menyadari kesalahan yang telah kita lakukan tapi kita lambat menangkap hidayah yang telah Allah berikan. Saat berada jauh dari keluarga, jauh dari mayoritas muslim tempat kita bergantung hanyalah satu yaitu Allah SWT. Itu yang aku rasakan, saat aku di beri hidayah lagi oleh Allah justru saat aku sedang berada jauh dari tempat nyamanku. Semoga Allah selalu melindungiku dan memberi aku hidayah dan petunjuk setiap harinya, agar aku dapat terus memperbaiki diriku. Readers yang sholihah (kalau ada yang baca) hhe jangan pernah menyesal seperti aku yah, jika kalian mendapat hidayah dari Allah segera tangkaplah, kalau tidak bisa berlari kencang paling tidak melangkahlah lebih cepat agar tidak menjadi muslimah yang tertinggal. Menyesali waktu yang terbuang percuma itu sungguh tidak enak, saat melihat muslimah lain yang sebaya kita bahkan sudah hafal 30 juz sedangkan saat melihat kaca “aku belum apa2” kemana saja diriku ini T_T




No comments: